Selama yang diteriakkan ialah jauhkan politik dari sepakbola, maka selama itu juga kita berada di pihak yang kalah.
Bayangkan, saat tokoh politik bisa duduk di tribun sepakbola dengan nyamannya. Padahal kehadirannya tidak bisa dilepaskan dari identitas dan kepentingan politiknya. Di saat bersamaan, kita, elemen terbesar di tempat itu justru menjadikan politik seolah suatu yang haram dibicarakan.
Dengan kekuatan yang lebih besar rasanya kita bisa menghadirkan politik tandingan. Bila mereka bisa datang dengan kepentingan, mengapa kita tidak juga membawa kepentingan kita ke hadapannya. Dengan demikian sepakbola menjadi lahan pertarungan yang adil. Gagasan dihadapkan dengan gagasan.
Semisal, saat pemimpin kota datang, jelas kemunculannya di hadapan banyak orang menjadi sorotan politik yang entah apa sedang ia usahakan. Menjadi adil bila kemudian kita juga bisa menghadirkan gagasan yang menjadi keresahan penduduk kota. Isu-isu perkotaan seperti penggusuran, hingga isu perhatian pemerintah kota terhadap sepakbola itu sendiri bisa menjadi tandingan politik praktis semata.
Bukan tidak pernah ada. Isu-isu semacam itu beberapa kali dibawa ke tribun-tribun dengan harapan mendapat lebih banyak dukungan. Semisal di Bandung. Bandung Supporter Alliance sering kali membawa keresahan kota ke tribun dari mulai penggusuran Tamansari hingga Dago Elos. Begitu juga di Jakarta. Dari, Jakarta Tolak Reklamasi pernah disuarakan di Stadion Utama Gelora Bung Karno hingga ikut menyuarakan #ReformasiDikorupsi.
Sayangnya, sebagian dari kita memang tidak bersepakat dan beralasan tidak ingin sepakbola ternodai dan tidak lagi murni. Kekuatan besar yang seharusnya bisa digunakan untuk menyuarakan dan perjuangkan bersama, justru seringkali malah membuat gesekan di antara suporter itu sendiri.
Menjadi alat pembungkaman
Kalimat jauhkan politik dari sepakbola nampak menjadi senjata agar suporter cukup dengan pembicaraan-pembicaraan sepakbola. Kekuatan besar tribun hanya diarahkan pada 90 menit pertandingan.
Seringkali, apapun isu yang coba diangkat ditampikkan dengan kalimat yang sama. Bagaimana mungkin isu kemanusiaan seperti pembantaian Palestina juga dilarang? Bahkan aksi dukungan untuk menuntut keadilan bagi para korban Tragedi Kanjuruhan mendapat berbagai penolakan.
Pernah juga satu ketika. Seorang buruh produsen perlengkapan sepakbola hadir untuk membawa isu adanya ketidakadilan di lini kerjanya. Upah murah, jam kerja melebihi yang telah ditentukan, hingga PHK. Namun lagi-lagi, isu yang sebenarnya tidak jauh dari sepakbola juga mendapat cibiran.
Pernah di suatu gegap gempita pertandingan Timnas Indonesia melawan Argentina, seorang buruh pabrik sepatu membawa tuntutannya ke dalam tribun. Ia malah mendapat cibiran karena dilihat mampu untuk membeli tiket, yang saat itu memang harganya dipatok terlewat tinggi. Dengan poster #AdidasPayYourWorkers di tangannya, bukannya sudah jelas seharusnya kita berpihak pada siapa?
Daripada hanya mengangkat sepatu setinggi-tingginya, bukankah lebih baik bila, kita, sebagai suporter dalam pasar sepatu yang bersangkutan, bisa menggemakan bersama #AdidasPayYourWorkers sebagai seorang suporter yang setia (nan edgy)?
Namun sayang, kalimat jauhkan politik dari sepakbola nampaknya telah berhasil menjadi alat pembungkaman. Pengkondisian bahwa suporter cukup hidup dengan sepakbola. Pengkondisian suporter dengan kekuatan besarnya untuk tidak memahami dan tidak mau terbuka dengan isu apapun di luar sepakbola itu sendiri.
Memunculkan alterego
Pembungkaman-pembungkaman membuat sebagian dari kita akhirnya merasa jengah. Pemikiran harus ditumpahkan. Suara-suara harus diteriakkan. Lagi-lagi, pemahaman yang kadung dipercaya lebih banyak dari mereka yang membuatnya semakin terhimpit.
Dengan semakin sempitnya ruang tribun untuk bersuara, maka wajar bila kemudian memunculkan alterego bagi mereka yang memiliki pemikiran, kepedulian, juga semangat perjuangan yang sama, namun cinta sepakbola. Jejaring mulai dirapatkan. Forum-forum diskusi dibuat. Harapannya jejaring ini kemudian dapat menghasilkan kekuatan yang tidak kalah besar bila dibandingan dengan kekuatan ketika pertandingan.
Muncul juga kemudian yang disebut sepakbola alternatif. Sepakbola tanpa pemodal. Sepakbola yang dimiliki bersama. Sepakbola yang dapat menjadi wadah idealisme individu-individu di dalamnya. Wadah yang kemudian menjadi saluran pemikiran dan suara yang selama ini lebih banyak dibungkam.
Di sepakbola alternatif ini, isu-isu kemanusian, isu-isu perlawanan, juga isu-isu yang tidak jauh dari keseharian dengan mudah dapat dilihat. Meski tidak sebesar kekuatan tribun-tribun penuh lampu sorot, setidaknya kesadaran-kesadaran kecil terhadap isu tersebut mulai tumbuh dan berkembang dalam sepakbola.