Sejenak, saya coba mengingat kembali bagaimana dia menjalani debut profesional pertamanya bersama Persija. Pesepakbola muda yang sedari awal telah dididik untuk bertumbuh di Persija. Musim ini adalah tahun ketiga dia bersama Persija, tahun di mana dia berhasil membuat saya dan mungkin juga kita, akan mengingat pemain ini dengan keluwesannya mengolah bola secara cepat, cerdas dan penuh perhitungan, dia adalah Rayhan Hannan.
Pemain muda yang dapat menghipnotis dengan cara dia bermain, bola yang seakan selalu mengikuti ke mana Hannan berlari, setiap pergerakannya adalah ancaman bagi barisan pertahanan lawan, tak hanya bermain mengandalkan kecepatan, tapi dia memiliki naluri dan kecerdikan yang bisa dia manfaatkan untuk menciptakan peluang sekecil apapun ke gawang lawan.
Hannan seperti mendapat warisan kemampuan olah bola dari sang ayah, Harry Salisbury, mantan pemain PSIS Semarang. Karakter bermain ayah dan anak yang hampir sama. Jika menarik satu tahun belakang, Hannan adalah “bocah baru” di skuat senior Persija, ia naik kelas ke tim senior pada musim sebelumnya di era kepemimpinan pelatih Jerman, Thomas Doll.
Tentunya, Hannan akan selalu mengingat tanggal 3 Juli 2023, hari di mana dia mendapat kepercayaan bermain selama tujuh menit menggantikan Ryo Matsumura di kompetisi Liga 1 musim 2023/24 melawan PSM Makassar. Awal langkah dirinya memulai perjalanan baru yang akan mengubah jalan hidupnya.
Hannan memulai perjalanan itu di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Tempat bersejarah dan tempat dari setiap para pemenang menuliskan catatan kesuksesannya. Hannan memang baru memulai perjalanan pertamanya selama tujuh menit. Tapi dari tujuh menit itulah, Hannan akan membuka pintu impiannya, menjelajahi lorong waktu bersama Persija dan menggapai semua harapan yang telah dia simpan sedari kecil.
Hannan Menjaga Kepercayaan
Tembus dan naik kelas menjadi bagian tim senior tentu bukan hal yang mudah, Hannan baru 19 tahun saat menjalani debut profesional pertamanya di Liga 1 musim 2023/24. Bagi saya, Hannan itu spesial. Bagaimana tidak, Hannan telah melewati 25 pertandingan, 10 di antaranya menjadi bagian dari sebelas pertama, total dia menyelesaikan 1.118 menit waktu bermain di musim pertama, bentuk kepercayaan yang tinggi dari Thomas Doll kepada Hannan.
Mungkin dari kontribusi dia bermain, Hannan hanya menyumbang dua assist di tahun pertama. Belum menghasilkan penampilan yang signifikan dari jumlah gol atau assist-nya, tapi lebih dari itu, Hannan di musim pertama berhasil memberikan warna baru di lini serang Persija, pemain kecil yang licin dan merepotkan.
Kepercayaan sang arsitek Jerman kepada Hannan, membuat dia semakin belajar dan semakin berkembang di setiap permainan. Setiap menit bermain yang diberikan adalah kesempatan berharga, sebuah jalan untuk Hannan bisa mencapai tujuan hidup dan cita-citanya.
Musim baru, estafet Thomas Doll sebagai Der Trainer berlanjut ke tangan Entrenador bernama Carlos Pena. Bergantinya seorang pelatih kepala, tidak serta merta menjadikan Hannan berkurang atau kehilangan menit bermainnya. Bersama Pena, Hannan adalah game changer, Hannan menjadi sosok pemain muda yang semakin tangguh, bebas dan pengubah keadaan saat Persija menghadapi kebuntuan menyerang. Sejak tulisan ini ditulis, Hannan telah berperan penting dengan mencetak lima gol dan tiga assist dalam 21 kali dia bermain, jumlah yang nantinya terus bisa bertambah.
Rayhan Hannan Sebagai Wildcard Carlos Pena
Hannan adalah wildcard yang akan selalu Pena gunakan, simpan terlebih dahulu lalu gunakan ketika tim mengalami jalan buntu. Hannan bisa menjadi apa saja tergantung kebutuhan tim. Penyumbang assist, dan ketika ada kesempatan, Hannan akan mencatatkan namanya sebagai pencetak gol bahkan dia bisa menyelamatkan Persija dari kekalahan, contohnya, saat Persija bermain buruk dengan tidak mampu menang melawan 10 pemain PSBS Biak di pekan ke-21 Liga 1 2024/25.
Saat itu, Hannan berhasil mengubah keadaan dengan satu golnya saat dimasukkan di babak kedua, menjaga Persija dari kekalahan yang tentunya akan memalukan, apalagi itu di laga kandang di hadapan the Jakmania. Walaupun tidak bisa melawan 10 pemain PSBS dari babak pertama itu juga agak memalukan sih.
Bertipikal bermain sebagai inverted-winger, Hannan telah berperan penting dalam mencapai target penting di setiap laga Persija, utamanya kemenangan. Hannan juga semakin menunjukkan progres dari prosesnya. Pena memberikan kepercayaan penuh bagi Hannan, dia adalah pemain yang memiliki kedisiplinan, mobilitasnya tinggi, tak jarang ia selalu berpindah posisi antar sisi flank, memanfaatkan setiap ruang untuk yang ada sebagai celah dia membawa bola, sekalipun ruang itu sempit.
Hannan adalah pembeda di setiap keadaan, dia pemain yang sulit ditebak, pergerakannya tidak dapat dikontrol bek lawan, lincah, begitu fleksibel dalam bergerak di lini depan dan dia bisa berada di mana saja untuk menerima dan mensuplai bola ke depan. Kemampuan Hannan juga bukan hal yang biasa dengan usianya yang masih muda.
Ada dua gol yang saya ingat dari Rayhan Hannan. Pertama, saat berhasil mencetak gol pertamanya untuk Persija selama dia bermain di skuat senior. Memanfaatkan sudut sempit saat bertandang melawan PSIS, menambah keunggulan dan membenamkan Mahesa Jenar di rumahnya sendiri.
Kedua, saat dia berhasil memamerkan kualitas tendangannya dengan akurasi tingkat tinggi, saat bola berhasil dibuat patuh untuk berbelok masuk ke gawang Persebaya dari sisi pojok lapangan, sebuah gol yang akan kita ingat termasuk Ernando Ari, Kiper Persebaya. Suatu malam di GBK yang akan selalu kita ingat bahwa Rayhan Hannan bukan hanya mencetak gol, dia mempertunjukkan sebuah seni.
Hannan Menciptakan Mimpi Bagi Dirinya dan Kita Semua
Sejujurnya, tulisan ini dibuat untuk mengapresiasi penampilan Rayhan Hannan di musim ini yang cukup mengesankan bagi saya pribadi sebagai penulis, Hannan mampu beradaptasi cepat dengan siapapun, dia juga berhasil menunjukkan level yang berbeda dari musim sebelumnya, peningkatan dari jumlah gol ditambah assist. Kontribusinya di Persija cukup menunjukkan tentang siapa dirinya.
Pemain muda yang bukan hanya sekedar bisa berlari atau gocak-gocek. Sekali lagi, dia penuh perhitungan. Hannan bisa menjadi inspirasi, di usianya yang masih sangat muda dan berhasil menembus batas, membuktikan dirinya yang terbentuk dari hasil kerja keras, ketekunan, serta menjaga sebuah kepercayaan dengan menampilkan semua kemampuan, badannya yang kecil tertutup dengan daya juang yang besar.
Tentunya, saya tidak ingin bersifat naif sebagai penulis bahwa Hannan harus selamanya berkarir di Persija. Hannan masih sangat muda, dia masih bisa berpetualang dengan segala potensi yang dia miliki. Kalaupun Hannan nantinya akan bertahan lebih lama bersama Persija, semoga dia bisa mempersembahkan gelar tertinggi untuk tanah kelahirannya, Jakarta.
Membahas Rayhan Hannan, bukan lagi membahas individu sang pemain, kita bicara sebuah investasi jangka panjang, sebuah generasi yang akan menciptakan kesuksesan baru di masa mendatang. Kelak, Hannan bisa menjadi pewaris gelar, menciptakan torehan sejarah untuk Persija.
Selayaknya taman bermain, lapangan adalah tempat Hannan mengekspresikan dirinya secara aktif, bebas dan seliar-liarnya. Lewat kakinya, dia bebas untuk berlari kemanapun yang dia mau. Mencetak gol dari sudut yang tidak pernah bisa kita duga, bergerak tanpa henti melewati segala halangan dan semakin melesat tanpa bisa terkejar oleh lawan.
Rayhan Hannan akan selalu terus bergerak tumbuh, berkembang dan semakin bersinar. Dia sedang merajut semua mimpi lewat kakinya bersama Persija, Hannan juga sedang mewujudkan mimpi kita semua, membawa Persija untuk menuliskan catatan gelar juara hingga sejarah baru yang saat ini masih kita tunggu.
Rayhan Hannan adalah secercah Harapan, dia juga sama seperti kita yang hidup sebagai anak Jakarta. Memiliki keyakinan yang kuat, selalu meninggikan cita-cita, terus menumbuhkan angan dan menjadikan setiap harapan sekecil apapun sebagai sebuah kenyataan.