Refleksi Menjelang Laga Persija vs Persib – Mei 2026
Keresahan mendalam yang terjadi belakangan ini akhirnya menuntut untuk dituangkan ke dalam bait demi bait. Fenomena ini menjadi refleksi atas betapa rapuhnya pengelolaan ego kolektif ketika fanatisme mulai terusik. Akhir pekan ini, Persija dijadwalkan menjamu Persib sebagai tuan rumah dalam lanjutan Super League 2026 pekan ke-32, namun dinamika yang menyertainya sungguh memprihatinkan.
Selama sepekan terakhir, ketidakpastian mengenai lokasi pertandingan terus bergulir. Berbagai spekulasi mengenai stadion mulai dari GBK, JIS, Manahan, Gelora Bung Tomo, hingga Stadion Segiri Samarinda menjadi perbincangan hangat di media sosial. Teka-teki tersebut akhirnya terjawab pada Rabu (06/05/2026) saat akun resmi Persija mengumumkan bahwa pertandingan akan dilaksanakan di Stadion Segiri, Samarinda, Kalimantan Timur.
Keputusan ini sangatlah kontroversial. Dua tim papan atas yang sedang dalam persaingan perebutan gelar juara (title race) dipaksa bermain di markas pesaing terdekat mereka, Borneo FC, yang saat ini menduduki peringkat kedua klasemen sementara.
Kondisi ini memicu ketegangan di level akar rumput akibat narasi saling tuduh yang dipercayai oleh masing-masing kubu. Sekali lagi, rakyat menjadi korban atas keputusan gegabah para pemangku kebijakan. Alasan “keamanan” yang dikemukakan oleh instansi terkait terasa sangat dangkal, mengingat pada laga-laga sebelumnya Persija terbukti mampu bermain di GBK tanpa kendala signifikan. Sangat ironis ketika jaminan keamanan gagal dipenuhi oleh pihak yang sebelumnya sesumbar akan memajukan sepak bola nasional.
Pertanyaannya, apakah memindahkan laga bertensi tinggi ke Kalimantan akan menjamin keamanan? Secara logis, justru sebaliknya. Keputusan ini memecah fokus pengamanan karena suporter akan mengadakan kegiatan nonton bareng (nobar) di wilayah masing-masing. Di sinilah letak kerentanan baru; potensi keributan justru meluas ke berbagai titik ketika salah satu kubu kehilangan haknya untuk menyaksikan tim kesayangannya langsung di stadion.
Jika menilik kembali Sarasehan Sepak Bola pada Maret 2023, Erick Thohir sempat menjanjikan perbaikan jadwal agar klub tidak lagi menjadi “musafir”. Janji untuk bersinergi dengan pihak keamanan agar setiap tim dapat bermain di kotanya sendiri pun pernah terlontar. Namun, fakta hari ini menunjukkan adanya kegagalan sistematis dalam merealisasikan komitmen tersebut.
Dengan berat hati, harus ditegaskan bahwa seluruh elemen yang terlibat—mulai dari Panitia Pelaksana, Pemerintah Kota, LIB, Federasi, hingga pihak keamanan—telah gagal menyediakan
hiburan yang layak bagi rakyat. Segeralah berbenah dan kembalikan kondisi sepak bola yang lebih baik; sepak bola yang telah kalian renggut dari kami.
One Response
bener lagi, daerah parung, daerah bogor pada bentrok itu. andai kata laga home di jakarta mungkin supporter fokus ke stadion, bukan malah bertebaran di berbagai titik daerah buat nobar.