Yang saya percaya, semula sepakbola memang milik mereka. Para elit daratan Britania. Keluarga kerajaan, jamaat gereja, juga anak-anak bangsawan yang bersekolah di kampus-kampus ternama.
Mereka membuat batasan, mereka membuat aturan, mereka memformulasikan permainan menendang benda hingga bisa disebut sepakbola. Namun di masa itu hanya mereka yang boleh memainkannya. Sepakbola menjadi permainan suci. Sepakbola menjadi permainan terhormat sehingga tidak sembarang orang boleh menendang bola dan memasukannya ke gawang.
Baru setelah revolusi industri di kisaran abad ke-16 para kelas pekerja berupaya merebutnya. Dengan jam kerja yang mulai tertata, sepakbola menjadi hiburan sekaligus menjadi sesuatu yang ingin juga mereka mainkan.
Di era inilah sepakbola mulai dimainkan pekerja antar pabrik. Di era ini juga kemudian sepakbola terpengaruh industrialisasi. Sepakbola mulai membentuk sistem tiket, mulai diikuti uang sebagai taruhan, hingga mulai melakukan transaksi jual-beli pemain.
Sepakbola berhasil direbut dari yang semula permainan suci para elit, menjadi permainan sekaligus hiburan para kelas pekerja. Setelah lelah sepekan bekerja, sepakbolalah yang dinanti. Di akhir minggu, sepakbola menjadi ritual peribadatan baru.
Sebagai permainan, sepakbola memang berhasil direbut. Sayangnya, tidak pernah sepenuhnya.
Para elit juga melihat perubahan ini sebagai kesempatan emas untuk mempertegas kuasa. Kepentingan mereka turut dikemas rapi dalam sepakbola. Menggeser kembali kedudukan kelas pekerja menjadi kelompok nomor dua yang tidak memiliki suara. Saat sepakbola bisa menjadi alat para elit, tidak demikian dengan para kelas pekerja dengan segala keresahannya.
Di sisi ini sepakbola menjadi medan perang yang ntah kapan dapat dimenangkan. Perjuangan untuk mengakhiri perang inilah yang perlu untuk terus dilatih, sehingga sepakbola dapat dinikmati tanpa kontrol dan aturan yang mengekang.
Dibangun di Atas Punggung Buruh
Tanpa industrialisasi, sepakbola mungkin masih hanya menjadi permainan mereka. Tanpa punggung-punggung buruh yang menopangnya, sepakbola tidak mungkin menjadi seperti hari ini.
Pemain, wasit dan para asistennya, pelatih, tim medis, kitman, ballboy, serta setiap orang yamg terlibat dalam penyelenggaraan sepakbola sekarang ini ialah buruh. Belum lagi dengan industri lain yang menopang sepakbola. Perlengkapan pertandingan, hingga brand bergaris tiga kebanggaan supporternya. Meski banyak dilupakan, pengertian buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain, baik bekerja untuk orang lain maupun instansi/perusahaan.
Sebagai kelas pekerja, tak heran masih banyak pemain yang mengalami penunggakan gaji. Belum lagi lebih jauh, para buruh yang brandnya menjadi kebanggaan, masih menghadapi banyak persoalan. Upah tidak sebanding, jam kerja melebihi batas, bahkan ada yang kehilangan calon anak karena cuti kerja bermasalah.
Pada akhirnya, sepakbola menjadi sesuatu yang dibangun di atas punggung buruh sekaligus menginjak leher buruh. Di sini sepakbola masih menjadi sesuatu yang harus kita rebut sepenuhnya. Dan sebagai supporter, sepakbola seharusnya bukan hanya sekadar hiburan melaikan suatu keberpihakan.