Sepak bola tidak pernah benar benar hanya tentang sebelas orang yang berlari mengejar
bola di rumput hijau tanah lapang, atau tentang papan skor yang menentukan siapa pemenang
dan siapa pecundang, atau tentang trofi yang diperebutkan setiap akhir musim, sudah seyogyanya
sepak bola juga menyimpan cerita tentang identitas, harga diri, dan keberanian untuk mengambil
ruang yang selama ini dikuasai oleh segelintir orang untuk kembali menjadi milik bersama.
Begitu pun dengan Persija, Persija lahir dari rahim perlawanan dan perjuangan, pada 28
November 1928, hanya sebulan setelah Sumpah Pemuda diikrarkan, Voetbalbond Indonesische
Jacatra (VIJ) didirikan di Batavia, nama Jakarta pada masa kolonial. VIJ bukan sekadar
organisasi yang mempertemukan orang-orang untuk bermain sepak bola. Ia lahir dalam lanskap
masyarakat kolonial yang timpang, ketika sepak bola juga menjadi ruang bagi kaum bumiputra
untuk membangun identitas dan menunjukkan keberadaan mereka. VIJ kemudian menjadi salah
satu pendiri PSSI pada 1930 dan berganti nama menjadi Persija Jakarta pada 1950, Sejarah ini
menunjukan bahwa sepak bola tidak pernah sepenuhnya terpisah dari keadaan akar rumput, VIJ
memang tidak melawan kolonialisme dengan senjata, tetapi keberadaanya mencerminkan
semangat untuk membangun ruang sendiri di tengah ketimpangan. Dari sinilah kita perlu
mengingat dan menanamkan salah satu makna perlawanan dalam sejarah Persija adalah
keberanian untuk terus bersuara dan menegaskan keberadaan di tengah keadaan yang tidak
setara.
Sejarah sering sekali menjadi sesuatu yang nyaman untuk dibanggakan, kita mengingat
tanggal pendirian, menyebut nama para pendahulu, mengenakan atribut kebanggan, dan
merayakan perjalanan panjang klub, namun sejarah akan kehilangan sebagian maknanya ketika
hanya diperlakukan sebagai kebanggaan yang diwariskan tanpa tanggung jawab untuk
meneruskannya, maka teruslah bersuara, dan berpihaklah,
Di Gaza, warga Palestina terus menghadapi penderitaan dan krisis kemanusiaan di negeri
sendiri, ketimpangan membatasi kesempatan sebagian masyarakat untuk memperoleh kehidupan
yang layak sementara kebakaran hutan dan lahan mengancam kesehatan, ruang hidup, serta
keberlanjutan lingkungan. Persija tentu bukan lembaga yang dapat menyelesaikan seluruh
persoalan tersebut, tetapi sejarahnya mengingatkan bahwa solidaritas yang kita rayakan di tribun
seharusnya memiliki kemungkinan untuk tumbuh melampaui tribun itu sendiri dan
menjadikannya sebagai jawaban.
Sepak bola adalah perlawanan, Persija adalah perlawanan. Bukan karena kita selalu
menang, bukan karena kita selalu benar, dan bukan pula karena Persija dapat menyelesaikan
seluruh persoalan bangsa. Melainkan karena sejarah mengajarkan bahwa ruang bersama dapat
dibangun, dan bersuara adalah bentuk perlawanan, serta keberanian untuk memihak kepada
marjinal. Persija bukan akhir dari perlawanan melainkan adalah pengingat bahwa perlawanan
selalu membutuhkan manusia yang bersedia melanjutkannya. Dan selama ketidakadilan masih
ada, tugas untuk bersuara belum selesai.
oleh : Javeed Akhtar